Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Guru Mengajar di Desa Kecil

Perkenalkan saudara saya, namanya Agus Alviono Mas Hariyanto Mangkudiningrat. Karena namanya terlalu panjang dan kebetulan pekerjaannya adalah seorang guru, maka orang-orang memanggilnya Agus Guru. Bahkan makin lama mereka cukup memanggilnya Guru saja. Kata Guru (dengan huruf G besar) yang terdapat pada tulisan ini akan mengacu pada 2 hal: orang yang pekerjaannya mengajar di sekolah atau si Agus Guru saudara saya tersebut, tergantung konteks.

Guru di desa kecil

Saat ini Anda sedang berada di blog Hang Guru dan label Aneka Curhat Guru. Insya Allah label Aneka Curhat Guru akan terisi dengan suka duka dan cerita sehari-hari Guru. Guru akan bercerita dengan jujur dan terbuka, suatu hal yang mungkin tidak mudah Anda temukan. Sedangkan biografi Gus Miftah bisa Anda temukan di label Ada Tokoh.

Guru mengajar di sekolah swasta

Agus Guru mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta kecil di desa kecil. Jarak sekolah dan pusat kota sekitar 10 km. Jarak dengan jalan raya kira-kira 3 km. Sekolah ini dulunya adalah milik yayasan desa tersebut tapi kemudian direbut oleh seseorang dan didaftarkan sebagai milik yayasan keluarga orang yang merebut tadi. Padahal dulu waktu pertama kali melakukan pembangunan gedung seluruh warga desa diminta sumbangan dan semua warga yang mampu memberikan sumbangan dengan ikhlas.

Sekolah yang sekarang sudah berusia 26 tahun itu mempunyai 6 ruang kelas: kelas VIIA, VIIB, VIIIA, VIIIB, IXA dan IXB. Enam ruang kelas adalah jumlah rata-rata yang dimiliki oleh sekolah kecil. Di tetangga desa ada sekolah yang serupa, juga memiliki 6 ruang untuk belajar. Guru adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sejak 16 tahun yang lalu ia diperbantukan instansinya untuk mengajar di sekolah ini. Guru diterima menjadi ASN dengan cara jujur dan tidak mengeluarkan uang sepeser pun.

Kebanyakan murid yang belajar di sekolah swasta ini berasal dari kalangan tidak mampu dan orang tuanya belum sadar betul akan pentingnya pendidikan. Hampir separuh siswa di sekolahnya Agus Guru diasuh oleh nenek atau kakeknya karena kedua orang tuanya pergi merantau ke luar provinsi. Saat ini sekolah ini menetapkan sumbangan sukarela (infak) sebesar Rp 60.000 setiap bulan. Dengan nilai nominal segitu masih banyak siswa yang belum mampu membayar secara teratur.

Cerita Guru kepada saya

Banyak hal yang diceritakan Guru kepada saya. Apalagi selama 10 tahun terakhir ini. Saya sendiri awalnya tidak menyangka ternyata dunia guru dan sekolah seperti itu. Saya pikir semua baik-baik saja, jujur, tulus dan mulia. Beberapa poin curhat Guru kepada saya diantaranya adalah:

1. Sekolah pusing mencari murid

Bagaimana tidak pusing? Ada dua sekolah lain yang jaraknya hanya sekitar 2 km dari sekolah Guru. Guru hanya mengandalkan mendapat murid dari desanya saja. Padahal kalau didata jumlah lulusan SD dan MI dari desa tersebut sangat terbatas. Belum lagi dikurangi jumlah anak yang ingin belajar di pondok pesantren atau meneruskan ke sekolah lain. Untuk mendapatkan 50 siswa baru saja susahnya bukan main. Dulu sebelum desa tetangga mendirikan sekolah sendiri, anak-anak di desa tersebut ada beberapa yang mau bersekolah di sekolah swasta tempat Agus Guru bekerja ini.

Lalu terjadilah persaingan antar sekolah dalam rangka mendapatkan siswa baru. Biasanya untuk menarik lulusan SD agar mau mendaftar, sekolah-sekolah tersebut memberikan seragam gratis. Ada yang hanya memberikan seragam olah raga saja, ada yang 2 bahkan 3 jenis seragam. Lebih gila lagi pada 3 tahun yang lalu ada SMP swasta dari kota yang ikut-ikutan “menyerang” ke desa. SMP itu memberikan uang tunai Rp 50.000 bagi setiap anak yang bersedia mendaftar.

Yang jadi masalah adalah bagaimana cara mendapatkan dana  untuk pembelian seragam tersebut? Entahlah, itu urusan kepala sekolah. Tapi yang sudah sering terjadi adalah beberapa guru yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi akan dikenakan iuran yang jumlahnya sudah ditentukan. Atau kepala sekolah akan berhutang pada pihak ketiga yang pembayarannya dikenai bunga.

Masalah lain saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah menyebarnya isu-isu liar dan tak pantas yang subyek dan obyeknya adalah sekolah-sekolah yang berada di area perebutan murid baru. Bahasa mudahnya sekolah-sekolah tersebut bisa saja saling menjelek-jelekkan satu sama lain. Padahal ada keluarga dimana sang suami bekerja di sekolah Agus Guru, sementara si istri menjadi guru di sekolah pesaing.

2. Guru curang saat ujian

Agus Guru bersyukur karena tahun ini tidak ada Ujian Nasional. Dia masih ingat betul bagaimana hati nuraninya harus bergejolak menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Dia tidak pernah dikirim ke luar untuk menjadi pengawas ujian di sekolah lain. Dia harus berada di sekolah untuk membantu program sukses ujian. Bagaimana caranya? Caranya sangat detil dan sistematis, tapi intinya adalah guru curang saat ujian agar siswa mendapat nilai bagus dan lulus 100%.

Agus Guru juga dirayu agar tidak usah terlalu idealis. Kalau jujur malah hancur, katanya. Dia juga diberi informasi bahwa hampir semua sekolah di kabupaten tersebut melakukan kecurangan saat ujian. Mungkin hanya metodenya saja yang sedikit berbeda.

3. Kepala sekolah seenaknya saja menerima guru baru

Namanya juga sudah diakui sebagai milik yayasan pribadi, maka kepala sekolah yang masih bersaudara dengan ketua yayasan itu beberapa kali mengambil kebijakan seenaknya saja. Yang paling tidak bisa dimengerti adalah dia sering memasukkan guru baru. Padahal jumlah guru sudah terlalu banyak. Untuk membagi jam mengajar saja sangat sulit. Penghasilan guru (yang 90% adalah guru honorer) juga sangat sedikit karena mereka hanya mendapat sedikit jatah jam mengajar.

Bahkan pernah terjadi ada guru yang harus mencari tambahan mengajar di sekolah lain untuk memenuhi 24 jam mengajar sebagai syarat agar pembayaran tunjangan profesinya bisa dicairkan. Ini kepala sekolah malah menambah guru baru. Kalau ijazahnya sesuai dengan kebutuhan masih bisa diterima akal. Tapi ini asal menerima saja tak peduli latar belakang pendidikannya apa.

Oke, itu dulu ya mengenai cerita guru yang mengajar di desa kecil. Insya Allah di lain waktu akan dibagi kisah-kisah pendidik yang lebih seru lagi. Mungkin Anda juga mempunyai pengalaman yang menarik seputar dunia guru dan sekolah, jangan ragu silakan berbagi di kolom komentar.





Post a Comment for "Cerita Guru Mengajar di Desa Kecil "